Jumat, 12 September 2014

ok harus saya mulai dari mana?

setelah sekian lama tidak menyentuh blog ini saya rindu juga akhirnya :3
terlalu banyak hal yang bisa dibagi, namun jika saya ceritakan satu persatu mungkin belum terangkai jelas apa yang saya maksudkan. tapi begini bisa saya katakan untuk hari-hari saya ini, yaitu kita tidak pernah tau apa yang tuhan gariskan, serta takdir apa yang menanti dimasa depan. kemampuan saya hanya terbatas untuk berusaha melakukan hal yang terbaik yang bisa saya lakukan kepada siapapun yang saya temui dan itu tidak selalu enak rasanya. mungkin saya adalah seorang "people pleaser", ok. sudah semestinya berbuat baik, hingga lupa kebaikan untuk saya dimana. saya kerap lupa untuk menghargai diri saya sendiri. lalu saya memutuskan menjadi jahat? mungkin saja. dan tetap pada "saya yang salah, anda yang salah, masa kecil yang salah". bukankah saya menjadi berada pada titik awal lagi yaitu mengasihani diri saya sendiri?

saya tidak yakin untuk berkata saya fokus kepada hal yang baik-baik, namun beginilah adanya tuhan membawa saya kemari :) 
hidup tidak sampai hanya disini,  maka mari cacak berbaiki :')

Sabtu, 01 Juni 2013

Bukannya tidak melawan, gadis kecil mengayunkan tasnya, menggertak geram suara kecilnya, hingga batas keberaniannya. Sunyi teriakan gadis kecil masih terdengar sampai sekarang.

Untuk semua anak yang pernah mengalami masa-masa sulit, terutama yang dipanggil Tuhan saat masa penderitaannya, semoga tenang jiwa mu.
jiwa-jiwa yang menjalani hidup dalam bebannya masing-masing, semoga cerah harinya...

Jumat, 03 Mei 2013

rasanya?

pintar tapi pintar nyolong? 
pintar tapi pintar nipu? 
makan makanan yang hak orang lain?
hak orang miskin?
apa rasa makananmu itu..

Minggu, 21 April 2013

rrrrandom

sore tadi saya menunggu hujan reda di rumah salah satu teman. kami mau perki ke undangan nikahan teman sma. sambil menunggu hujan macam-macam hal yang kami bicarakan. awal mulanya mengenai tragedi pengeboman di Boston kemudian merembet topik lainnya. inti dari pembicaraan kami kira-kira dunia ini terlalu banyak campur sana-sini kepentingan. dan itu sangat mengerikan ketika kita sadar kalau apa yang bisa dilakukan, apa yang kita yakini, apa yang terjadi saat ini semuanya saling bertabrakan.
saya memikirkan masa depan. kalau saja semuanya semudah farmville, saya akan cukup puas untuk memilih jadi petani sepanjang hidup. ya jujur saja saya akan sangat puas jika itu dapat terjadi. kalau mau bertahan hidup kira-kira kebutuhan yang sangat penting selain hubungan dengan manusia lainnya ya makan. bahkan kalau tidak bersosialisasi sekalipun dengan cukup makan kita masih bisa hidup kan? hahaha kalau usaha yang dilakukan hanya dengan membeli, seumur hidup saya hanya akan menyesal kalau-kalau saya ternyata meracuni anak-anak saya dengan racun yang enak.
tau ham untuk isian burger yang ada dalam kemasan plastik itu? saya pernah baca kalau industri pengolahan daging untuk menjadi instan seperti itu menyebabkan banyak sekali limbah, belum lagi pengawet yang mereka gunakan. setelah sampai pada konsumen digoreng pula, bertambahlah kejahatan dari makanan tersebut. itu hanya ham, bagaimana yang lain?
jika jadi vegetarian menurut saya menarik juga, tapi bagaimana industri pertanian saat ini yang menggunakan pupuk maupun pestisisda? sayur-sayur dengan batang yang gendut dan daun yang sempurna apakah aman?
seandainya saja dapat hidup mandiri tanpa tergantung pada apa yang disediakan untuk menjadi konsumer yang loyal..

Kamis, 11 April 2013

lupa akhirnya

seandainya 
mau lebih membuka hati
mendengarkan yang bertutur lirih
berimajinasi menjadi yang lain
teguh dengan Yang Kuasa titahkan
berdoa lembut hatinya

mungkin saja manusia yang manusia lebih manusia
bukan sekedar binatang yang lebih dari binatang

tapi yang seperti itu hanya Nabi-Rasul yang sudah tiada

kita hanya mancoba-coba 
tapi lupa berdoa

Senin, 25 Maret 2013

semudah tidak ingin

mungkin saja ada hari dimana berjuang itu sia-sia
mungkin saja ada hari dengan pertanyaan "untuk apa?"
mungkin saja ada hari untuk menjawab bisa
mungkin saja ada hari tercipta mematikan asa
mungkin saja ada hari untuk berkata "sudahlah tidak mengapa" 

Minggu, 03 Maret 2013

di tengah (2)

magno: aku tak mengerti mengapa ia hanya tertarik untuk ke selatan yang membuatku yakin untuk mengakhiri pertemuan-pertemuan selama tiga tahun ini. rambut merah bergelombangnya itu jelas sekali menandakan bahwa ia keturunan orang utara meskipun kulitnya tidak berbintik seperti para utara dan itulah yang membuat dia istimewa. eksotis lebih tepatnya. aku masih ingat saat pertama kali bertemu di kedai seberang bengkel Paman Nafih, tempat berkumpul para bajingan setelah seharian berkelakar. seorang laki-laki tua yang suka berdadan sepeti wanita menyodorkan sekantung emas padanya untuk bergabung di rumah pelacurannya. aku tidak pernah melihat harta sebanyak itu, semua orang pada saat itu pun aku yakin belum pernah melihatnya. daisy menepisnya hingga bertaburan di lantai dan keributan pun terjadi. ah singatnya saat Daisy bangkit sehabis ditampar germo itu ia menyibakkan rambut sebahunya, aku terdiam sangat lama. aku tak sempat melihat bagaimana Pero mengigit bokong sang germo. keterpakuanku usai sampai ia berlari keluar  bersama anjing gagahnya itu sambil tertawa yang diiringi suara tawa seisi kedai yang mengiringinya berlalu. 

daisy: tiga hari sudah berlalu aku belum juga selesai berkemas dan aku yakin Magno pasti sudah mulai melangkah berlawanan arah. Lola selalu bilang aku selalu menjadikan semuanya dramatis, hanya di dalam kamarku tentunya. kebencianku atas tanah ini terlalu pekat, bagaimana bisa aku terlihat lemah di luar sana? aku tidak pernah percaya dengan orang-orang selain di rumah ini. mungkin saat ini orang-orang sudah melupakan cerita para ular yang menyesatkan itu, bahwa dua gadis kecil yang dikirim itu hanyalah anak sang penipu. keberadaan kami di panti asuhan ini mungkin tidak terlalu mencolok bagi para Pesarah, lucunya semua anak yatim piatu mendambakan takdir kami. satu-satunya penghuni yang memiliki saudara kandung hanya kami berdua. saat aku berumur tiga tahun dan Lola delapan tahun kami diserahkan ke rumah Nyonya Karin oleh pelayan setia ayah. jika mereka tahu kisah anak sang penipu yang sampai harus dilarikan jauh dari utara ke kota industri ini maukah bertukar posisi dengan kami? bertahun-tahun aku menangisi nasib hingga aku benar-benar mengenal Magno.

bisa dibilang kami anak-anak yatim piatu rumah Nyonya Karin adalah anak tak berorang tua paling beruntung di Pesarah. rumah ini tidak besar, tidak bergelimang belas kasihan donatur kaya namun kami berada di tangan yang penuh kasih yaitu Nyonya Karin. kami tidak dibeda-bedakan, cinta dan tanggung jawab yang sama. sampai usia tujuh belas tahun kami tidak diijinkan untuk mencoba bekerja di luar rumah. ditambah sebagian besar anak penghuni rumah adalah perempuan yang membuat nyonya selalu berat melepas kami mandiri. sampai usia yang ditentukan aku memilih bagian bertani sebagai tugas rumah. aku cukup bangga karena diantara banyaknya anak perempuan disana yang lebih memilih memasak dan menjahit hanya aku yang memilih bersama anak laki-laki dekat dengan cacing dan ulat dan aku cukup kuat mengayunkan cangkul seperti laki-laki. karena itulah Nyonya Karin menghadiahiku Pero. sampai usia tujuh belas tahun aku diijinkan keluar mandiri dan mencari kerja pusat Pesarah. aku menyerah pada kata percaya, bahkan dendamku terhadap takdir juga mulai pudar berkat Magno karena kami berduan bertekad menjadi manusia yang berpegang pada hati.

bersambung....