Rabu, 10 Januari 2018

123 ABC

Bagaimana cara membaca  judul tersebut? satu dua tiga a b c? atau one two three ei bi ci?

(tulisan ini hanya kegelisahan saya terhadap hal yang baru-baru ini dibahas oleh teman-teman angkatan almamater S1 dulu dan tentunya sanggat subjektif. tapi bolehlah teman-teman renungkan?) :)

jadi tu beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang menunjukkan saya sebuat thread twitter dari seseorang yang menyebutkan kalau paud itu bukan pendidikan, tapi bisnis. ya dari sepintas saya bisa memahami apa yang beliau maksudkan, beliau dalam balasan tweetnya ada memasukkan sebuah tabel tahapan perkembangan anak, bahwa anak usia dini sedang dalam masa ini, tahapan ini, membaca berhitung, dll itu sudah menyalahi kesemestian anak seperti apa, yang mana dalam lingkup perguruan tinggi saja kadang akademisi punya kecenderungan sendiri dalam memandang si 'tahapan perkembangan anak ini'. semua memiliki landasan dan pandangannya sendiri-sendiri tentang bagaimana seharusnya anak usia dini itu.

ayo balik dulu ke bagaimana pendidikan dan bisnis itu, dua hal ini seperti sejalan tapi jalan yang rumit. kalau dari sebuah lembaga pemberi beasiswa memberikan bantuan keuangan pada awardee-nya, apa sih keuntungan yang didapatkan oleh lembaga itu? uang? kalau bagi penerima pastinya uang untuk pendidikan dan tunjanggan lainnya bagi pemberi beasiswa apa? 
sedangkan bagi orang tua yang menyekolahkan anaknya, apa yang didapatkan dari keputusan mereka mengeluarkan uang demi pendidikan anak-anaknya? 
bagi negara memfasilitasi dan meregulasi pendidikan manfaatnya apa? adakah yang berubah dari dampak adanya  pendidikan tersebut?
hubungan uang dan manfaat yang diperoleh dari pendidikan, apa yang kita peroleh? secara luas dan berkepanjangan. investasi kah? manusia, anak-anak, sebagai investasi kah? rasanya pernah membaca dulu sebuah artikel ilmiah yang membahas dampak dari pendidikan anak usia dini, dibahas dibidang ekonomi dan human capital atau apa sih manfaatnya bagi perkembangan si manusia itu sendiri. kurang etis si ya karena saya udah agak-agak lupa apa isinya, yang pasti dari segi ekonomi, dengan adanya investasi uang yang dicurahkan ke pendidikan anak usia dini apa manfaatnya? investasi tersebut dari kaji dari sebuah program pemerintah amerika serikat, yang mengatakan bahwa hasilnya anak yang mendapat imbas dari program tersebut tidak juga berkembang signifikan (fokus program matematika dan membaca) lalu proses mendidik dari guru juga tidak menjadi membaik. uang yang dikeuarkan pemerintah untuk itu semua apa manfaatnya? ketika disisi kasus misalnya didapatkan dari program tersebut anak baik dibidang IPA karena alokasi waktu yang diluangkan lebih banyak dari pada matematika/membaca. baik itu apa sih? signifikan itu apa sih? apa yang menjadi patokan ini semua? mau diapakan anak-anak kita? kualitas itu yang seperti apa? standar apa yang kita kejar selama ini? apa ini semua benar-benar apa yang anak perlukan? 

itu kalau di amerika serikat ya, kalau di indonesia apa yang terjadi. saya hingga saat ini tidak begitu paham dengan sistem kurikulum yang dicanangkan pemerintah dari keluarnya permen-permen (bukan yang manis-manis itu, teman-teman dari lingkup paud pasti paham). tidak begitu paham, ya sungguh sebuah ketidaktahuan, -sombong pula- tapi dari yang hinggap di otak saya, ada kalimat-kalimat berikut, penilaian otentik, ada unsur seni, itu yang saya ingat dari permen yang terbaru. ditingkatan SD juga begitu, penilaian otentik yang konon katanya sulit. kalau di paud ya kita pasti tidak asing lagi dengan ini, begitu banyak aspek perkembangan anak yang kita harus catat sehari-hari, kemudian assessment tersebut, apa yang harus kita berikan pada anak di esok hari, kegiatan apa yang seru untuk itu, bahan main apa yang sesuai, seberapa lama alokasi waktu yang diberikan kegiatan itu, bagaimana tentang keamanannya, materi apa yang sesuai, kembali ke assessment, bagaimana perkembangan anak hari ini? begitu muter lagi sampai dibagi rapor yang kadang cuma satu paragraf kolom guru curhat perkembangan anak hahaha. bersukur jaman sekarang ada teknologi semacam whatsapp misalnya, orang tua mudah bertanya dan guru mudah langsung mengabari. jadi kalau meluangkan waktu yang lebih anak bisa terpantau terus tanpa menunggu rapor di akhir semester. mekasimalkan portofolio hasil karya anak juga bisa dimaksimalkan kan ya untuk terus menjaga pengetahuan orang dewasa bagaimana perkembangan anak. kerja keras bukan? masih banyak lagi mungkin yang bisa dibahas, ini hanya dari segi implementasi pembelajaran dan evaluasi. butuh SDM guru yang mumpuni untuk mengerjakan semua itu, terus apa penghargaan bagi usaha rekan-rekan guru paud sudah cukup mengcover itu semua? masih banyak guru yang cuma 50 ribu gajinya perbulan, dirapel lagi sampai tiga bulan juga ada, atau malah ada cuma bilang gini sambil tertawa getir, ya memang tidak seberapa (baca kadang ya ada, kadang ya ndak cukup untuk bayar listrik dan air sekolah), anggap saja ladang amal bagi saya :')

bagi penyelenggara pendidikan, sekolah, lembaga yang menaunginya, ini cerita yang lain lagi. mutu-kualitas layanan berbanding lurus sekali dengan keuangan. kelengkapan alat main, sarana prasarana, serta guru yang dibebankan dengan mutu harusnya diberikan sarana dan dana yang masuk akal. masuk akal dalam apa? masuk akal dengan tuntutan kerja keras yang dibebankan. lalu uangnya dari mana? atau dari donatur, atau ada yang kreatif sekolah bisa menciptakan uang dari usaha lain demi kecukupan kebutuhan, lalu dari yang dibayarkan oleh orang tua? kenapa orang tua -konsumen? karena ya memang begitu adanya, coba hitung jumlah sekolah TK negeri dibanding dengan swasta. berapa banyak lembaga paud yang berusaha sendiri menguatkan diri dengan idelisme mutunya tanpa bantuan dana pemerintah. banyak. lembaga yang berdiri seadanya di teras mesjid, di garasi rumah pribadi, demi melayani anak usia dini yang ada disekitarnya. benar-benar seadanya. mutu, kualitas, jauh lah. tapi kebutuhan anak untuk terdidik ada, orang tua mengantarkan dengan harapan-harapan yang baik pula untuk anaknya. mainan yang catnya mengelupas, bengkok-bengkok, crayon yang patah-patah dipakai beramai-ramai pula, satu ayunan direbutkan oleh sepuluh anak, ayunannya berkarat pula, jelek lah. tapi anak-anaknya main saja tu. sekolah sebagai tepat bermain, tempat berteman, tempat berpengetahuan yang baru tercapai dengan keadaan yang demikian alakadarnya. sayang ada yang lebih baik kondisi sekolahnya namun kerap bertanya dan berpendapat seenaknya, oh enak yang guru paud cuma nyanyi-nyanyi terus pulang, tepuk-tepuk terus pulang, atau kok anak saya bilang di sekolah tadi gambar sama melipat, gak belajar anak saya? saya tidak bisa menyalahkan itu, toh kenyataan kebanyakan orang tua kurang paham perkembangan anak itu memang begitu adanya. tapi saya ada rasa tanggung jawab kita dibidang pendidikan paud mengedukasi orang tua, sehingga tidak ada kalimat-kalimat yang demikian. lalu mereka menjadi lebih paham akan kebutuhan anaknya, tidak membebani sekolah-guru dengan harapan-harapan terhadap anak namun lepas tangan saat di rumah masing-masing, dan yang lebih penting tidak segan mengeluarkan 'uang' untuk kualitas yang setara dengan keinginan.

eh tapi paud itu bisnis bukan? iya bisnis, kalau beli franchise luar/dalam negeri. kalau menjanjikan anak bapak ibu disini bisa sempoa, bahasa mandarin, bahasa arab, bahasa inggris dijamin kalau tidak bisa 50% uang kembali (bahasa indonesia kelupaan). ada penawaran dan permintaan. mau yang paud seadanya atau yang banyak macam-macamnya, pasti ada yang ditawarkan dan ada yang inginkan dari orang tua demi anaknya. masuk akal tidak semua itu ditinjau dari kemampuan orang tua kebanyakan dan setersediaan sekolah 'terjangkau' sekaligus bekualitas? banyak pertanyaan saya ya, kadang penasaran sama anak atau cucu menteri-persiden selama ini sekolah paudnya dimana? pre-school/TK nasional atau franchise gemerlap luar negeri? kalau disekolahkan di tempat bagus dan mahal itu, semacam tidak pede dengan kebiajakan terhadap paud yang berjalan selama ini hihihi. saya bisa bergosip panjang sekali tentang sekolah mahal yang uang pangkalnya puluhan juta tersebut... tapi ini untuk dilain waktu lah. selama ini banyak dengar katanya saja, karena cukup susah dapat ijin melihat-lihat sekolah model macam itu. sekolah yang mungkin saya tenang tentang kepintaran anak saya, namun menjadi cemas sekali anak saya enggan nantinya bermain dengan teman-teman di luaran sekolahnya karena mereka 'kurang' atau nanti malah anak saya sulit bicara bahasa indonesia yang baik.

ya dari semua paragraf yang berantakan dan keresahan pribadi tersebut, saya sering meyakinkan diri saya kalau nanti (Insya Allah) diberikan titipan rejeki mendirikan sekolah, sekolah apalagi paud bukan untuk cari uang loh ya, tapi guru-guru-ku harus sejahtera, anak-anak didik-ku harus menerima layanan sebaik-baiknya, dan orang tua yang menyekolahkan anaknya harus sesadar-sadarnya aktif dalam pertumbuhan dan perkembangan anaknya. 



Senin, 20 November 2017

my unpopular opinion (3)

anakku, kelak fotomu mungkin tidak akan ibu unggah di media sosial.
karena ibu tidak mau.

tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan siapapun. baik orang tua maupun para pengguna media sosial. enjoy!


Adanya media sosial sekarang jelas sudah jauh mengubah cara kita berkomunikasi, berinteraksi, bersenang-senang mencitrakan diri, berbelanja, dan lain lain. Paling tidak cukup merubah para pengguna aktifnya. Pernah dengar mungkin mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat? Ciieee. Yup ndak penting cie itu, lanjut ya. Terus kalau kata sondre lerche dalam penjelasan lagu i'm always watching you itu kira-kira kita bisa merasa begitu dekat dengan seseorang yang bisa jadi benar-benar asing, tapi karena sering melihat instagram feednya, facebooknya, twitter dan lain sebagainya menjadi merasa akrab, tahu, ingin tahun, sok tahu, ingin memiliki and so on... down to digital rabbit hole. Penguntitan yang tidak ada habisnya (paling tidak sampai jempol yang hati-hati itu tidak ceroboh mengscroll sampai postingan beberapa tahun yang lalu dan ter-tab 2x yakkk ter-lope unchh. Penting -_-). Tapi saya tidak akan membicarakan bagaimana cara saya menguntit my crush on internet, karena feed beliau saya ikuti sejak dini sekali, bahkan telur twitternya belum pecah waktu itu! (cacak creeper iih). Opini tak populer ini adalah tentang bagaimana saya menguntit kehidupan seorang anak dari sejak usianya 2-3 tahun, hingga terakhir sudah mulai bersekolah di tk. Usia yang sangat-sangat dini untuk diikuti kan?

Berada disituasi mengerjakan tesis ini dan bertemu teman-teman yang pintar, kritis, dan membuka wawasan yang lebih luas lagi terutama dibidang penelitian terhadap anak. Ini mengantarkan saya pada etis penelitian pada anak yang ternyata sangat rumit untuk dijaga, karena saya orang yang lebih tua dalam posisi tertentu di lokasi penelitian memiliki power. Saya bisa saja meminta anak untuk mengikuti aturan saya, mengancam mereka, memanipulasi data sebagaimana yang saya inginkan anak itu bertingkah laku sesuai ekspetasi saya sebagai manusia yang mudah lalai, dan lain sebagainya. Namun tahukan saya bahwa sesungguhnya foto anak, nama anak, identitas rinci anak tidak boleh saya libatkan dalam penelitian ini, lalu mereka memiliki hak untuk tidak mau menjadi partisipan saya dengan alasan apapun? Ya baik, saya tidak pernah percaya foto memberikan suatu pengaruh yang signifikan dalam penelitian ini kecuali hanya sebagai bukti saya pernah datang ke lokasi penelitian. Lalu kalau tentang nama, saya di penelitian lalu belum menggunakan nama samaran, hanya inisial, yang mana itu cukup berbahaya sebenarnya. Kemudian kalau tentang identitas rinci itu memang di luar kemampuan saya untuk menjangkaunya. Dan anak sah-sah saja bilang tidak mau difoto, tidak mau dicatat, dan kalau orang tuanya tidak mengijinkan saya dengan usaha apapun tidak etis untuk menjadikan anak bagain dari data, itu sudah saya sampaikan dan alhamdulillah sampai selesai di lapangan tidak ada penolakan sekalipun sudah saya ingatkan berkali-kali pada anak bahwa “Bu Ani bukan bu guru biasa ya, ini lagi tugas sekolah untuk mencatat teman-teman. Boleh ndak?”. Mengapa itu semua penting? Karena dari data yang saya paparkan nantinya dihasil akhir dapat berdampak buruk terhadap citra diri anak, tidak semua yang saya tulis manis seperti tingkah laku anak iklan susu bubuk di TV. Mereka anak-anak yang sangat kompleks latar belakangnya, baik dari cara orang tua mendidik,  lingkungan sosial-ekonomi tempat di besarkannya,  hingga menjadi cerminan bagaimana generasinya saat ini. Tidak adil jika suatu saat misalnya ada orang yang membaca hasil tulisan saya, melihat foto anak yang menjadi partisipan, kemudian mengetahui namanya, lalu berkesimpulan sedemikian rupa hingga misalnya mengganggap anak tesebut tidak ramah lalu jauh menyimpulkan bahwa keluarganya tidak becus mendidik anak. Padahal kehidupan yang saya tuangkan dalam tulisan cuma sekelumit diskursus yang penting bagi saya diangkat. Bukan resume dari kehidupan anak tersebut.

Dari curhat refleksi peneliti yang panjang dan bertele-tele tersebut, saya tersadar akan banyak hal yang menarik sekali paling tidak bagi diri saya yaitu tentang ig-famous kids atau anak-anak yang terkenal lah di platform instagram beserta pengikutnya. Tidak kenal secara pribadi, tidak pernah ketemu, bukan anak saudara atau teman, bukan juga anak selebriti, tapi yang mengikuti bisa sampai ratusan ribu atau ada yang jutaan, dan bahkan ada yang ter-featured di 9gag. Ada yang sampai terendorse macam-macam produk, hingga didatangkan sebagai bintang tamu di stasiun TV swasta nasional. Saya hanya satu dari jutaan orang lainnya yang mengikuti anak-anak ini (gak sih Cuma 1 yang diikuti), kemudian tersadar banyak hal dari bagaimana orang-orang berkomentar di kolom komentar dan bagaimana si pengunggah foto/video ini terhadap si anak, ah belibet. Yaitu:

Satu, menuntut
Menuntut si ibu atau siapalah walinya untuk ada video baru. Ada yang berkomentar baik hingga menanyakan kabar, tanya pada tetangganya, pada bibinya, kakeknya, si anak mengapa lama tidak mengunggah foto/video. Catat ya, nanyanya juga melalui media sosial, kolom komentar. Ada juga suatu saat dengan fasilitas siaran langsung para pengikut, meminta si anak untuk nyanyi. Saya pribadi cukup kaget dengan situasi tersebut, seorang asing meminta anak orang asing untuk bernyayi. Ya meskipun yang baca cuma ibunya(itupun kalau terbaca sama ibunya). Tapi siapa kita? Ada hak apa kita minta anak orang untuk melakukan ini itu? Mereka tidak memandatangani kontrak apa pun dengan para pengikutnya, sekalipun sudah menaruh sekelumit kehidupannya untuk dilihat orang melalui media sosial. Mereka bukan para pembuat konten seperti platform youtube yang terkadang meminta saran pada penontonnya, agar sesuai keinginan para penonton yang akhirnya mengguntungkan bagi kreator juga dengan akumulasi jumlah video diputar dan iklan yang ada. Anak yang bahkan belum tau mungkin dirinya terkenal, tidak sadar bahwa terkadang tingkah lakunya menjadi tontonan banyak orang, pernahkah  ditanyai ijinnya? Suatu kali saya membaca keterangan si ibu yang sampai meminta maaf pada para ‘penggemar’ ketika ketemu si anak terlihat tidak ramah, bahkan tidak suka ketika ada telepon selular pintar yang merekamnya. Kalau didalam konteks penelitian saya positif menarik diri untuk meneliti anak tersebut, karena dirinya sudah menunjukkan penolakan, rasa tidak nyaman, sekalipun misalnya maksud saya tidak buruk sama sekali. Tapi dikehidupan nyata dari kasus tersebut jelas kita punya kekuatan untuk merampas hak privasi anak, yang mungkin senang bermain biasa-biasa saja. Merekam atau foto hanya sanggup dilakukan leluasa oleh ibunya karena sudah pasti akrab dan jelas memiliki hak mau dibagaimanakan si anak ini. Kalau orang yang baru ketemu baiknya sudahlah cukup bersukur bertemu, mangajak bermain yang baik jika anak dan orang tua mengijinkan, tidak perlu merekam, memeluk, mencium, atau mencubit pipi anak. Konsep mengidolakan hingga harus berfoto video begermas ria hingga diunggah lagi sebagai bukti sudah bertemu belum anak pahami lah, bisakah kita mencoba menimbang dari sisi diri anak yang tidak tahu tersebut?

Kedua, ajang siapa paling benar
Soal mendidik anak itu kalau bagi orang tua adalah hal yang sangat pribadi. Tidak ada orang tua yang senang dikritik tentang bagaimana cara membesarkan anaknya. Sekalipun kita bersikeras itu salah, ya orang tua itu selalu berusaha untuk berbuat yang benar bagi anaknya, meskipun caranya mungkin salah. Tidak ada orang tua waras ingin anaknya celaka atau jadi anak yang tidak terpujilah pasti perlilakunya, semua pasti mau anaknya bai-baik saja. Lebih bahaya kadang saat orang tua memberikan keterangan yang berkaitan dengan kesehatan, wih ramai sekali kolom komennya bilang yang dilakukan itu tidak bersih dan berbahaya bagi anak. Apa boleh buat, jadi adu otot jempol tangan kan yang berkomentar. Yang bahayanya juga, kalau yang dilakukan itu memang benar salah, tau tidak cocok dilakukan pada anak lain sih, kemudian orang tua lain mengikuti. Kalau terjadi apa-apa pada anak minta tanggung jawab sama siapa?

Ketiga, penjahat
Di dunia ini banyak orang jahat. Di dunia maya lebih banyak lagi, berada dibalik layar dengan akun yang tak jelas kita bisa berkomentar apa saja, nge-troll, mengunduh foto, menyebarkannya lagi, dan lain sebagainya. Berkomentar di dunia maya itu bebannya tidak seberat mengkritik langsung orang yang bersangkutan kan? Ketik, beres. Mau yang baca tersinggung, sedih, sampai jatuh harga dirinya, kita tidak pernah tahu langsung. Selesai bagi yang mengetik, cerita lain bagi yang membaca. Ya, dalam konteks ini anak ada yang mungkin belum membaca, tapi orang tuanya? siapapun orangnya yang dibalik layar ponsel itu orang asli, punya kehormatan. Lantas dikomentari fisik misalnya..kebayang tidak di depan wajah kita ada orang asing yang bilang,eh gigi kau jelek sekali ya udah maju kuning pula. Ibu mu tak ajarkan rawat gigi yang benar ya? Pasti sibuk ngurus karirnya sama gaul dengan teman sosialitanya sampai kau tak terurus. Jangan bapakmu juga ninggalin ibu mu sama istri muda karena tidak diurus? Kau orang berada tapi, pelit kali ngurus diri mu...blablabla. Tidak mungkin kan, tapi mungkin kalau troller yang menulis itu. Lalu foto dijadikan meme sangat mungkin sekali, ya lucu bagi yang membuat, kalau garing bagaimana? Haha. Hmm dilaporin lah sama papa :P. Tapi kalau anak-anak ya, bagaimana kalau fotonya bukan hanya dijadikan meme, tapi kemudian dimodifikasi untuk kepentingan promosi misalnya yang bisa saja tidak bertanggung jawab produk atau jasanya. Atau yang lebih mengerikan beredar di forum tertentu seperti predator seksual anak-anak apalagi foto atau  videonya berbaju minim, sedang dimandikan, atau tidak menggunakan baju. Ya kalau orang normal tidak masalah dengan hal tersebut, kalau orang ‘sakit’? hiii. Terus, penculikan. karena jelas seragam sekolahnya sampai lokasi sekolahnya dicantumkan, dengan informasi yang telah dibagikan secara akrab bisa jadi ini terjadi kan? Nama tahu, kesukaannya apa tahu, nama orang tua tahu, sudah akrab benar kita rasanya sama si anak. hiii.

Pada akhirnya, keputusan mengunggah foto/video anak ke media sosial mutlak haknya orang tua. Tapi boleh kali anaknya ditanya mau atau tidak, terus diajak diskusi tentang kenyataan bahayanya media sosial dari komentar yang menyakitkan hati, haters, penjahat kelamin, penculik dan lainnya. Ini pendapat pribadi saya saja, boleh dong anak tahu semua resiko itu sebelum masuk ke ranah atraksi publik mengerti atau tidak mengerti nanti juga mengerti. Dan untuk anak-anakku nanti, ibu pasti bahagia dan bangga sekali dititipi kamu seperti semua orang tua kebanyakan yang mengupload foto anaknya di internet. Tapi sampai kamu cukup mengerti semua bahaya di luar sana, sanggup mempertanggung jawabkan dan menjaga dirimu sendiri, dan secara matang kognitifnya mengerti apa yang ibu jelaskan atau mintakan ijinmu terhadap foto yang akan ibu upload, maka biarlah kenangan dirimu ibu simpan dalam memori hp ibu dan kepala ibu. tak perlu juga kamu buat akun media sosialmu dulu nak. Ingatkan juga ibumu yang sekarang ini masih sibuk main hp untuk main dengan mu saja, bilang gini -Bu you too old to be kids  jaman now. Keputusan ini final, bapak mu nurut saja lah haha. See you in the future kids.


Selasa, 18 Juli 2017

my unpopular opinion (2)

err entah jadikan serial sajalah ini ya..
pertama kali dalam hidup saya menikmati prasangka orang terhadap identitas saya sebagai orang kalimantan.

semua ini pengalaman pribadi, tanpa mendiskreditkan suku, asal kelahiran, kondisi sosial, budaya, dan ekonomi satupun kelompok.

di suatu sore ramadhan 2017 kata-kata "saya dari kalimantan" bisa mengubah perlakuan yang saya terima pada hari itu. singkat cerita entah mau dihipnotis atau memang salah orang saya dituduh mencuri pada hari itu. fresh baru turun dari angkot mau jalan cari takjil, saya dicegat seorang yang mengaku mahasiswi di universitas yang sama dengan saya. dituduh lah saya mencuri dua hari sebelumnya, yang mana saya paling tidak terima itu bukan masalah saya nyuri atau apa, saya dua hari sebelum itu ke kampus?? benarnya seminggu yang lalu ada, ini saya tertuduh rajin ke kampus loh, duh tidak terima saya haha. saya yang sering disangka asal sekitaran jawa barat karena selama ini berusaha berbicara menyesuaikan dengan dialek di sana berubah bernada tegas, tanpa tanda lemah lebut sedikitpun seperti biasanya. saya sesali itu, sampai meminta maaf karena cara bicara saya yang mungkin membuatnya cukup kaget hingga bertanya "teteh asal mana?" nah dari jawaban "kalimantan" itu beliau menjadi tenang dan tidak memojokkan saya dengan ancaman kelihatan dari cctv lah dan lain sebagainya. 

satu hal yang saya amati dan rasakan selama ini mengenai identitas kalimantan adalah sebagai berikut:
1. saya disangka orang sunda -kasus terjadi di jawa barat- karena, wajah saya tidak terlihat seperti orang seberang (bingung orang seberang itu, seberang mana? apa yang diharapkan dari wajah orang luar pulau jawa?).
2. kaya. karena dianggap banyak minyak, tambang batu bara dll. amiinin lah dikata kaya (kenyataanya kalau di kalimantan barat -ini mengukur daerah asal- adanya kelapa sawit, dikuasai sama pengusaha besar pula. da aku mah apa atuh).
3. kudu hati-hati ya kalau sama orang kalimantan, jangan macam-macam banyak orang "pinter" nanti diapa-apain. (paling membuat saya pengen ketawa sebenarnya, saya rasa beliau yang nyegat saya itu jadi takut sama saya gara-gara ini. seperti nasehat orang-orang baik, semuanya ini kan punyanya tuhan kok takut dicelakain sama yang punyanya tuhan? tidak bermaksud meremehkan, tapi ya kok itu yang disangkanya?).
4. oh orang dayak ya? (ya tidak sesederhana itu saya orang kalimantan pasti orang dayak, bukan anti loh disebut orang dayak. saya yakin memang ada campuran dayak dalam diri saya jika ditelusuri dari silsilah keluarga. tapi tidak sesederhana itu bilang seorang yang datang dari kalimantan otomatis orang dayak. di kalimantan ada orang banjar, banyak transmigran dari pulau jawa, madura, orang bugis, orang keturunan tionghoa, dan orang melayu atau suku-suku lain diluar pengetahuan saya yang hidup turun temurun. terus kalau saya bilang saya campuran dari banyak suku menjelaskan buang-buang waktu kan. hmmfff ya sudah lah).

mungkin prasangka dan ada hal-hal lain yang kecil-kecil saya kurang paham atau salami. terus orang-orang-orang tadi rasis? tidak sesederhana itu bilang orang rasis. pengalaman di atas saya anggap sebagai terbatsanya informasi orang-orang terhadap kalimantan. sedikit cerita mengenai keanehan orang kalimantan atau kejadian di kalimantan jadilah penilaian mutlak kalimantan itu a b c g j k l z. bukan berarti juga semua orang bagitu, ada yang sudah biasa bergaul dengan orang kalimantan mungkin memiliki opini lain, pernah tinggal di kalimantan berpendapat lain, atau sama sekali tidak ada ide pontianak di mana -dalam kasus saya- ada yang dengan lugunya bertanya "pontianak itu sulawesi ya?", jadi pengen ketawa-ketawa kesal hahaha. prasangka. ya apa daya itu hal kita lakukan secara mudah ketika baru bertemu dengan orang. kasus saya di awal bisa jadi kan prasangka saya terhadap orang tersebut yang bisa jadi mau berbuat jahat pada saya, tapi bisa juga dia memang salah orang. dari penampilan luar kita mudah sekali membuat penilaian terhadap orang lain atau dari asal usulnya. 

rasis tuh agak-agaknya seperti orang padang pelit atau orang ambon kasar. yaa kan banyak orangnya masa semuanya begitu, ada juga kan orang kalimantan pelit atau kasar haha. gara-gara berita oknum begini jadilah semua yang memiliki identitas demikian menjadi tertuduh demikian, bukannya heran karena sudah terjadi dari jaman dulu sampai sekarang pola semacam ini. tapi kalau masih merasa sama-sama manusia, ya kita ini kurang lebih lah. jangan dari prasangka saja, jika dikuti sampai berlaku tidak adil bahkan sampai merendahkan itu tuh yang bahaya. tak kenal maka kenalan sih intinya supaya kenal. saya dengan senang hati menjelaskan kalimantan itu begini, lalu begitu, lalu demikian dan terima kasih.


Selasa, 30 Mei 2017

Belajar

Bismillah..
Ini sangat personal. 
Bukan tulisan dari seorang yang paham, yang banyak khilaf dan dosanya, maka dari tulisan ini saya tidak menilai pengalaman masing-masing orang menjadi paling benar atau pun salah. Terlahir dari kedua orang tua yang muslim dan berada di lingkungan mayoritas muslim mungkin nikmat pertama dan terbesar yang saya miliki saat di lahirkan, hingga saat ini. Alhamdulillah. Adalah hal yang mudah mendapatkan informasi terkait agama dan ibadah sedari kecil, berkesempatan sekolah dalam naungan lembaga Islam, dan banyak hal lain yang mungkin kelihatannya kecil. Seperti  jika dibandingkan dengan saudara-saudara seiman di negara yang mayoritas non muslim atau daerah yang berlatar seperti demikian, keadaan saya ini adalah nikmat yang sangat luar biasa. Alhamdulillah. Namun dalam perjalanannya,(hingga saat ini) ternyata beragama, memiliki identitas sebagai seorang muslim tidaklah semudah perkara terlahirkan oleh orang tua muslim atau di negara muslim. Perjalanan ini adalah proses, setidaknya itu yang saya pikirkan.

Proses sebagaimana yang pernah mama saya ungkapkan, tobat itu tidak ada yang mendadak. Benar atau tidak saya percaya akan hal itu. Entah bagaimana kronologinya sekarang saya berhijab. Pelindung yang saya tinggalkan di bangku sekolah dasar, pelindung yang hanya dikenakan saat pelajaran Agama Islam saat SMP dan SMA, pelindung yang kadang digunakan saat berpergian ke masjid saat hendak sholat Eid, pelindung yang berkali-kali diucapkan “ya aku akan pakai tahun depan..” berkali-kali, sampai ini saya malu menuliskannya. Mungkin niat yang sejak dari umur belasan tahun itu dimunculkan lagi dari cara-cara yang tidak terduga, lembut, mengguncang isi hati, dari setahun penuh pelajaran, dan hikmah-hikmah yang MasyaAllah hanya Allah yang bisa membolak-balikkan isi hati. Siapa sangka dari tulisan teman-teman yang tidak terduga di laman media sosial, dari foto teman-teman yang tak terduga anggun berkerudung, sahabat-sahabat baik yang sedari dulu senang berbagi isi hati sambil berdiskusi, peristiwa-peristiwa yang tidak lazim, serta ayat-ayat Al Quran random yang kadang terbaca saat berselancar di internet. Itu semua menjadi penguat ‘tabungan niat’ saya mengumpulkan pakaian panjang, hingga  ramdhan 2015 saya memutuskan rambut saya bukan konsumsi publik.

Dua tahun yang tidak terasa dan mungkin terasa juga sih ya saya berkerudung (berhijab atau entahlah namanya apa saya tidak pernah yakin istilah yang benar selain istilah mukenah, udah paling pakem untuk sholat tuh dari pada nama secarik kain di kepala ini haha). Pengalaman orang ya berbeda-beda, ada yang bilang “ya enak si sejak pake hijab gini, kalo diganggu sama laki-laki di jalan juga paling di Assalamuallaikum-in..”. Ya kalo saya pribadi tetap merasa tidak nyaman apapun sebutannya jika di jalanan ditegur aka cat calling apapun kata-katanya. Bukan kah laki-laki juga memiliki tugas untuk menundukkan pandangannya? Hehe ini sok tau saya saja ya, dalil yang benar belum tahu. Dan mungkin kalau disadari dari tulisan ini jelas sekali ini cerita berkerudungnya seorang yang kurang ilmu agama ( yahiyalah jelas). Saya pribadi kena di hati sekali dengan hadist yang ada bilang itu hadist yang lemah tapi menggerakkan saya untuk semakin kuat berkerudung (tidak berani disebutkan karena belum cukup ilmu). Kemudian yang mungkin belum banyak yang tau ada kaitanya dengan pandangan laki-laki, ini ya saya kabari nikmatnya rambut yang ditiup angin sepoi-sepoi seperti iklan shampo, menggunakan summer dress , dan berkemeja motif hawaii adalah nikmat yang saya amini dan rayakan dengan menggunakannya keluar rumah (kecuali ‘summer dress’-daster lelong yaa).

Sampai sekarang hal-hal tersebut masih menjadi nikmat bagi saya, tapi apa yang benar-benar berubah dalam waktu setahun merenung dan ‘dipanggil-panggil’ Allah itu? Saya tiba-tiba tidak lagi merasakan nikmat dilihat oleh orang asing, apapun bentukan rambut saya tidak terasa indah lagi di cermin sesaat sebelum keluar rumah, tanggan saya jauh-jauh hari mulai saya tutupi dengan baju lengan yang lebih panjang, berasa leher pendeklah, dan kaos yang terasa pas tidak nyaman lagi digunakan. Tidak mau dilihat-lihat, Risih. Mungkin itu kata yang paling tepat mewakilkan keresahan saya pada saat itu. Risih dengan pandangan orang lain pada saya, kepercayaan diri saya menurun signifikan ketika dibilang gemuk, dan lain sebagainya ketika bertemu orang lain yang mungkin menjadi pertanyaan yang tidak disadari dalam alam bawah sadar saya “ada yang kurang dalam penampilan aku”. Diet dan ganti potongan rambut saya lakukan, keresahan itu masih sama saja. Tapi dalam proses itu juga mungkin sebenarnya saya sudah terdesak dari dalam diri saya sendiri, “ini saatnya, apa lagi?”. Hingga akhirnya saya mantap berkerudung, rasa keresahan itu masih ada. menjadi “kok aku gak jago nyambungin warna baju sama kerudung” hahaha. Tapi keresahan atas kurangnya penampilan dan rasa risih dilihat itu hilang menjadi tenang dan aman.

Meskipun dengan masih ‘pergelutan’ isi hati seperti “ini cukup kok, gak perlu jago pake pashmina lilit-lilitlah” atau “tuhkan dipanjangkan lah kerudungnya, nutup dada pliss! bagus kok” atau “eh kurang oke ya kalau panjang, keliatan gendok (cupu, kampungan)” ada tuh dalam hati saya ganti-ganti. Orang macam saya yang tiba-tiba sakit kepalanya berasa muter-muter waktu kajian di SMA beginilah.. sampai sekarang belum berkesempatan belajar lagi lebih baik, masih banyak kekurangan.. alasan tuh ngejar ilmu dunia terus~ lalalala cukup ya ini diselesaikan, insya Allah nanti dikuatin juga belajar yang bener ya cak. Tapi sejak menggukankan ataupun siapapun yang baru menggunakan hijab, sahabat-sahabatku semua..ada baiknya kita berdoa untuk saudara kita si fulani-fulana dan diri kita sendiri itu semoga selalu istiqomah dengan pakaiannya. Semoga semakin baik keimanan dan kualitas ibadahnya dan selalu dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan yang soleh-solehah biar ketularan. Yang belum ya jangan ditinggalkan yah? (PR bagi saya yang senang lonely dan tidak pandai menjaga silahturahmi. Idup perlu orang lain juga oi!). Seperti saya ini, kalau tidak digiring-giring diobrolin yang baik-baik juga mungkin lebih menikmati drama beauty guru youtube disela-sela sebagian ‘besar’’ waktu saya menonton youtube (tuh kan terlihat betapa buruk kualitasnya saya menghabiskan waktu). Tetapi MasyaAllah, bayangkan dari banya waktu tidak bermutu itu saya masih tanpa direncanakan belajar diperlihatkan ayat-ayat suci sampai kuat niatnya? Maha Kuasa Allah dengan segala rencanaNya J


Semoga kita semua terus menerus ‘berproses’ ke arah yang baik..

Minggu, 02 April 2017

my unpopular opinion

superhero movies are mostly lame, dan selama ini belum pernah nonton batman nolan *kemudian dikucilkan masa. tapi seru kok..yang baik mengalahkan kejahatan dengan kekuatan super kan ya semuanya. kurang mengena mungkin bagi saya adalah bagaimana bentuk kejahatannya karena yang saya tahu kejahatan ya seperti korupsi, penipuan, pencurian, pembunuhan, dll tidak perlu kuatan super atau rencana menguasai galaksi kejahatan yang sehari-hari masuk laman berita itu udah cukup jahat dan memberantas kejahatan seperti itu hanya perlu penegakan hukum serta orang-orang yang sadar kebutuhan semua orang buat hidup damai-aman sama. *ah kau cak terlalu serius, kurang liburan sama swafoto haha. tapi ini serius.. sungguh serius...

ibu yang rela jatah perawatannya dimenggantikan kacamata teman anaknya yang dipecahkan saay mereka berkelahi, bapak yang rela dimarahi atasannya lantaran kurang konsentrasi bekerja karena kurang tidur menemani anaknya yang gelisah tidurnya, seorang yang sabar sekalipun dijadikan lelucon kasar di lingkungannya, dan hal-hal hebat yang ada di kehidupan sehari-hari, boro-boro saya kagumi sampai dijadikan panutan diapresiasi saja tidak. kurang bersyukur, kurang mawas diri, ya saya.

teringat percakapan semalam..bayangkan yang jadi idola anak-anak kita tuh sp*derman captain mamarika dll yang akhlaknya mulia terus dulu sedih sekali memikirkan masa depan kita sulit sekali disebutkan...

*YOLO* you only die once eh (;
peace dadaaah

Selasa, 07 Maret 2017

Pertanyaan

apa yang sering kau tonton selama ini?

apa yang kau baca selama ini?

dengan siapa saja kau bergaul selama ini?

seberapa banyak yang aib yang kau sembunyikan?

seberapa banyak waktu yang kau tunda?

Jumat, 27 Januari 2017

cerita magno dan daisy tidak saya bayangkan bagaimana jalan di tengahnya, yang pasti mereka berpisah.

namun merahasiankan asa pada satu dan lainnya, dalam diam saling berjanji akan bertemu suatu hari. ya mereka tersesat dan saling mencari. hingga suatu sore hari magno menepuk lembut pundak daisy dari belakang. dadanya berdegup-degup hingga suara nafasnya terdengar jelas. daisy membalikkan badannya, pipinya instan merona. ia tak tahan untuk tersenyum dan memandang langsung ke wajah magno. pakaian mereka sangat lusuh, entah apa terjadi selama ribuan hari yang lalu tanpa saling bertemu. magno mengacak-acak rambut daisy, mereka berdua menghela nafas yang panjang. sore itu berlalu dengan tenang, disinari senja mereka perlahan berbincang tentang hari-hari yang sulit dan saat-saat yang bahagia. hingga hari sepenuhnya gelap, mereka terus berbicara.